Kegagalan bukan berarti Tuhan meninggalkan Anda, tetapi Dia mempunyai rencana lebih baik.
Kegagalan bukan bearti anda tidak mencapai apa-apa, tetapi anda sudah mempelajari sesuatu
(Dr. Robert Schuller)
Siapa orang yang tidak ingin sukses dan bahagia dalam hidupnya?. Berbagai upaya dilakukan untuk menuju “kesana”. Mulai dari kandungan ibu sampai dewasa, beragam upaya ditujukan untuk kesuksesan dan kebahagiaan. Doa seorang ibu akan selalu mengiringi sang anak yang akan lahir kedunia agar sang anak dapat bahagia dunia dan akhirat. Saat sang anak beranjak memasuki dunia pendidikan, maka sang anak dituntut kelak untuk sukses dan bahagia. Menaikkan dan memperkuat IQ sang anak, orang tua tidak segan-segan mengeluarkan dana agar kesuksesan dan kebahagiaan sang anak dapat diwujudkan.
Namun, kenyataan hidup berkata lain. Dalam perjalanan hidupnya, seseorang tidak luput mengalami dan menjumpai kegagalan. Harus diakui, kegagalan adalah sesuatu yang tidak mengenakkan, menyakitkan dan menyedihkan. Sehingga tidak mengherankan bila eksistensi kegagalan selalu ditolak manusia bahkan ada kecenderungan menyingkirkan kegagalan. Kegagalan identik dengan kebodohan, kemalasan, kecerobohan dan ketidakmampuan seseorang. Padahal tidak demikian keberadaan dari kegagalan. Kegagalan adalah suatu kondisi pembelajaran bagi seseorang yang mau belajar dengan kegagalan itu sendiri.
Semakin sukses seseorang maka akan sering berjumpa dengan yang namanya kegagalan. Orang sukses tidak akan terlena dengan kegagalan yang menghampirinya. Orang sukses akan berbenah diri dan menyusun rencana baru guna melepaskan diri dari kegagalan. Kegagalan dijadikan cambuk untuk terus melangkah maju.
Berbeda dengan orang yang tidak sukses (orang yang gagal), mereka terlena dengan kegagalan. Orang gagal ini cenderung terjebak dalam pola pikir negatif atas kegagalan yang dialaminya. Oleh David J. Schwartz, Ph.D pakar leadership tingkat dunia dikatakan bahwa orang semacam ini akan menderita penyakit pikiran yang mematikan otak yang juga disebut penyakit yang mencari “kambing hitam” kegagalan. Akhirnya aksi menyalahkan pada banyak pihak bahkan pada Sang Pencipta-pun turut dipersalahkan dengan kegagalan yang menimpanya.
Terpenting dalam menghadapi kegagalan adalah pensikapan terhadap kegagalan tersebut. Keterlenaan akan memberikan dampak negatif yang berupa penyakit mencari “kambing hitam”. Sudah barang tentu yang namanya penyakit akan memberikan multiple efect bagi penderita. Keragu-raguan akan mewarnai jalan hidup padahal hanya berpikir ragu-ragu saja akan mendatangkan kegagalan apalagi menjalani hidup dengan penuh keraguan. Pola kerja otak yang mengarah negatif (berpikir negatif) pun mulai bergerak dan dampaknya sangat luar biasa kinerja individu akan cenderung tidak produktif (menurun).
Ada pepatah yang mengatakan kegagalan adalah sukses yang tertunda adalah obat bagi orang-orang yang tidak terpaku pada kegagalan karena pepatah tersebut belum titik masih koma. Kesuksesan yang tertunda adalah benar bila yang bersangkutan bereaksi keluar dari kegagalan. Ada action bangkit dari kegagalan. Menebas keterlenaan akan kegagalan dan terus berusaha mencari titik sukses. Orang sukses tidak terlena dengan kegagalan. Orang sukses selalu berpikir positif terhadap kegagalan karena dengan kegagalan akan membuat manusia mampu mengetahui batas kemampuan dirinya. Jadi mengapa kita harus takut dengan kegagalan. Mari kita sambut kehadiran kegagalan dalam kehidupan ini, karena kegagalan adalah suatu kondisi positif yang menempa seseorang untuk menuju kesuksesan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar